DARI MAHASISWA UNTUK BANGSA
Chusnul Fatiha Chairan
Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, suara mahasiswa telah merubah wajah negeri yang dahulu suram akan keserakahan, kejahatan, keterpurukan bahkan terjebak dalam jurang kebodohan menjadi sebuah harapan akan mimpi indah di masa depan. Gerakan mahasiswa, telah memberikan lembaran cerita tersendiri dari sejarah negeri ini. Gerakan yang mengantarkan Indonesia pada gerbang kebebasan dari tangan-tangan penindas dan pikiran-pikiran licik para pemangku kekuasaan.
Mahasiswa tidak hanya memiliki tugas untuk mengenyam pendidikan di perguruantinggi. Akan tetapi sebagai pihak yang telah menyandang gelar “pengkritisi”, mahasiswa juga berperan dalam mengawal dan mengawasi sepak terjang pemerintah dalam berbagai kebijakannya. Hal ini sangat diperlukan agar pemerintah tidak seenaknya mempermainkan jabatan mereka dengan memperalat rakyat kemudian mempertebal kantong pribadi.
Mahasiswa dengan berbagai pergerakannya yang mengatasnamakan rakyat, telah banyak memberikan sumbangsi positif bagi perubahan negeri ini. Suara keluh kesah rakyat miskin dipinggriran kota seakan menjadi teriakan besar ketika keluar dari mulut mahasiswa. Jeritan hati para buruh yang menuntut haknya seakan berarti ketika mahasiswa ikut menyurakan hak tersebut. Tangisan bayi busung lapar seakan terdengar sampai ke media massa ketika disuarakan oleh mahasiswa. Semuanya akan berarti ketika mahasiswa mulai bergerak.
Mahasiswa bukan tong kosong nyaring bunyinya, ketika mahasisw abeserta pergerakannya mulai memperjuangkan sebuah hak, maka mereka dating dengan segudang solusi pasti. Mahasiswa bukan orang bodoh yang mau menyiksa tenggorokannya denganteriakan-teriakan penuh omong kosong. Pola piker kritis dan terkonsep membuat mahasiswa mengerti akan betapa pentingnya kode etik dalam mengkritik, bukan malah sebaliknya, mengkritik sebuah kode etik tanpa ada jalan keluar yang ditawarkan.
Hal yang sangat disayangkan, ketika mahasiswa menyuarakan aspirasi, para pemangkujabatan di pemerintahan seakan diam dan tak ada respon sama sekali. Para pejabat pemerintahan menganggap suara mahasiswa hanya sekelas ocehan belaka yang dengan sendirinya akan hilang tanpa harus ditanggapi. Memang, ada juga pejaba tpemerintahan yang meluangkan waktunya mendengarkan aspirasi dari gerakan mahasiswa, namun tidak ada tindak lanjut sama sekali. Janji hanya sebuah isapan jempol belaka, semuanya dilakukan demi sebuah niat kemunafikan yang terkonsep dalam sebuah politik pencitraan.
Turun kejalan, orasi, bakar ban, spanduk kritikan, sampai pada penutupan akses jalan merupakan cirri khas gerakan mahasiswa ketika aspirasi mereka tidak didengarkan lagi. Entah dengan cara apalagi mahasiswa dapat menciptakan perubahan jika jalan diplomasi tidak dapat menghasilkan solusi memuaskan. Tak jarang, beberapa aksi mahasiswa sering berujung pada anarkisme atau bentrokan dan akhirnya justru “memvonis” mahasiswa sebagai pihak yang bersalah. Dari kesadaran mahasiswa, tak ada keinginan untuk melakukan hal tersebut namun ini merupakan sebuah permainan pihak tertentu yang berusaha memperburuk citra mahasiswa sebagai salah satu agen perubahan.
Gerakan perubahan oleh mahasiswa bukan merupakan sebuah teori yang mampu didapat dari mata kuliah di perguruan tinggi. Tetapi itu adalah spontanitas didasarkan pada dorongan hati nurani melihat realita kehidupan bangsa yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila. Gerakan mahasiswa selalu mencoba mencari tempat yang tepat guna mengawal perubahan pada negeri ini.
Entah kepada siapa lagi negeri ini menaruh harapan tentang masa depannya kelak jika bukan pada mahasiswa sebagai pemuda penggerak perubahan. Janganlah gaung reformasi dijadikan sebagai kesenangan sesaat yang hanya berlaku pada saatdahulu, kemudian hilang tak berbekas. Jangan biarkan negeri ini terdiam membisu bersamaan dengan mengalirnyadosa-dosa para penjahat negara. Jangan biarkan kebebasan di negeri ini membuat pihak-pihak tertentu bebas menindas dan merampas hak-hak orang lain tanpab elaskasihan.
Marilah coba menyadari betapa masa depan negeri ini berada di pundak dan pikiran mahasiswa. Sudah terlalu banyak goresan-goresan hitam yang membuat ibu pertiwi menetesakan “air mata”, perubahan tidak dapatditunda-tunda, waktu terus berputar dan zaman terus berganti. Sosok Soekarno, Syahrir, atau bahkan Soedirman sekali pun sudah tak dapat kembali guna menyelamatkan Negara ini dari keterpurukan. Gerakan perubahan mahasiswa adalah sebuah keharusan sebagai bukti loyalitas tanpa batas kepada bangsa dan negara.
Daftar Pustaka
Azizy, A. Qodri Abdillah. 2010. Mereformasi Birokrasi. Bogor: PT. Sarana Komunikasi Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar